pendapat para tokoh tentang filsafat manusia

23 10 2008

RENE DESCARTES (1596-1650)

Filsafat Rasionalismenya membawa dampak terhadap
pandangan tentang manusia. Pemikiran-pemikiran penting
dalam filsafatnya:
· Ada dua bentuk realitas yang berbeda, dua
“substansi”. Yang pertama adalah gagasan (res
cogitan), atau “pikiran”, dan yang kedua adalah
perluasan (res extensa). Pikiran itu adalah kesadaran,
tidak mengambil tempat dalam ruang. Materi adalah
perluasan, mengambil tempat dalam ruang dan tidak
mempunyai kesadaran.
· Kedua substansi tersebut tidak mempunyai hubungan
satu sama lain. Pikiran sama sekali tidak tergantung
pada materi, sebaliknya proses materi juga tidak
tergantung pada pikiran à dualisme.
· Manusia adalah makhluk ganda yang mempunyai pikiran
dan badan perluasan. Apa yang kita pikirkan dengan
akal kita tidak terjadi di dalam badan – itu terjadi
di dalam pikiran, yang sama sekali tidak tergantung
pada realitas perluasan. Namun Descartes tidak dapat
menyangkal bahwa ada interaksi konstan antara pikiran
dan badan. Interaksi konstan berlangsung antara “roh”
dan “materi”. Pikiran dapat selalu dipengaruhi oleh
perasaan dan nafsu yang berkaitan dengan
kebutuhan-kebutuhan badaniah. Namun pikiran dapat
menjauhkan diri dari impuls-impuls ‘tercela’ semacam
itu dan bekerja tanpa tergantung pada badan (jika aku
merasakan sakit yang amat-sangat pada perutku, jumlah
sudut dalam sebuah segitiga tetap 180 derajat. Maka
manusia mempunyai kemampuan untuk bangkit mengatasi
kebutuhan-kebutuhan badaniah dan bertindak secara
rasional. Dalam hal ini pikiran lebih unggul daripada
badan.

SÖREN KIERKEGAARD (1813-1855)

Sebagai Bapak Eksistensialisme, pandangan filosofis
Kierkegaard tentunya banyak membahas tentang manusia,
khususnya eksistensinya. Beberapa point yang penting
dalam filsafatnya:
· Individu tidak ditempatkan di hadapan Ketiadaan,
melainkan di hadapan Tuhan.
· Dia menganggap Hegelianisme sebagai ancaman besar
untuk individu, untuk manusia selaku persona.
· Yang harus dipersoalkan terutama subyektivitas dari
kebenaran, yaitu bagaimana kebenaran dapat menjelma
dalam kehidupan individu. Kebenaran obyektif –
termasuk agama – harus mendarah daging dalam si
individu.
· Yang penting ialah bahwa aku memahami diriku
sendiri, bahwa kulihat dengan jelas apa yang Tuhan
kehendaki sungguh-sungguh agar aku perbuat. Yang
terutama kubutuhkan ialah mendapatkan suatu kebenaran
yang adalah benar untuk aku, suatu ide yang bisa
mengilhami kehidupan dan kematianku. Apakah gunanya
menemukan suatu kebenaran yang disebut obyektif dan
mempelajari semua sistem filosofis … Sejauh mana ada
baiknya bagiku dapat menjelaskan arti agama Kristen
bila agama itu tidak mempunyai arti mendalam untuk aku
sendiri dan kehidupanku …” Kierkegaard mencari
kebenaran yang konkret serta eksistensial, suatu
pengetahuan yang dihayati (connaissance vécue), a real
knowledge.
· Dia membedakan manusia dalam stadium estetis, etis
dan religius.
· Pada stadium estetis manusia membiarkan diri
dipimpin oleh sejumlah besar kesan-kesan indrawi,
mengikuti prinsip kesenangannya, lebih dijadikan hidup
daripada ia hidup sendiri. Manusia menyibukkan diri
dengan rupa-rupa hal, tetapi ia tidak melibatkan diri;
ia hanya tinggal seorang penonton yang berminat. Ia
bisa menjadi seorang hedonis yang sempurna, seorang
“perayu” seperti Don Juan, atau seorang yang “sok
tahu” dan seorang Sofis (mis. Mendalami filsafat dan
teologi).
· Kebosanan, kekurangsenangan dan kecemasan memimpin
seseorang ke arah stadium etis. Mulai mekar keinsafan
akan kemungkinan-kemungkinan kita, akan kebebasan,
tanggung jawab dan kewajiban kita. Kita sampai pada
diri kita sendiri, menggantungkan kehidupan kita pada
norma, bertumbuh menjadi persona. Kita semakin
mengikat diri, dari penonton menjadi pelaku, kita
melibatkan diri. Dalam stadium ini juga, manusia
menyadari keadaannya yang tragis dan bercacat; ia
menginsafi bahwa ia penuh kekurangan. Ia akan merasa
jengkel karena ketidaksempurnaannya serta
ketidaksanggupan morilnya dan mungkin akan memberontak
terhadap seluruh tatanan etis.
· Manusia bisa merasa dirinya kecil dan tidak berdaya
sambil mendambakan topangan serta bantuan Tuhan, yang
mengulurkan tangan-Nya untuk membantu manusia yang
terkoyak-koyak (bandingkan Mat 5:3). Bila kita
menangkap tangan ini dan membuka diri untuk Tuhan,
maka kita tiba pada stadium religius. Sebagai orang
Kristen – ia berani menerjunkan diri ke dalam
petualangan untuk – dengan ketidakpastian intelektual
yang besar – mempertaruhkan seluruh jiwa raganya demi
mengikuti jejak Kristus. Iman kepercayan Kristiani itu
bersifat paradoks, sebagaimana Kristus merupakan
Paradoks besar yang mempersatukan keabadian serta
keduniawian, keilahian serta kemanusiawian. Hidup
sebagai Kristen adalah cara hidup tertinggi yang
merupakan kemungkinan ultim dan makna keberadaan
manusia.

About these ads

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: