Batik Tulis Pamekasan

30 12 2008
Pemberian Motif Pada Kain

Pemberian Motif Pada Kain

Proses pertama yang dilakukan oleh pengrajin batik tulis yaitu memberi motif pada kain. tinta yang digunakan adalah malam yang telah dicairkan.

Pemberian Warna

Pemberian Warna

Tahap selanjutnya yaitu pemberian warna, dalam pemberian warna setiap pengrajin batik tulis mempunyai ciri khas yang berbeda.

bersambung…………………………..





Runtuhnya Sebuah Simbol

30 12 2008

Runtuhnya Sebuah Simbol

Fenomena, sebagaimana saya pahami, merupakan satu-satunya kenyataan yang sejati dari segala sesuatu. Semua sebutan yang tercakup kedalam fenomena ini, dan dalam tingkat tertentu fenomena ini, memang dapat ditunjuk dengan sejumlah sebutan ini, dan bahkan meliputi sebutan-sebutan yang bertentangan. Tetapi, terus terang saja, kata ini menunjuk pada suatu realitas yang tak dapat didekati dengan cara kerja dan distingsi-distingsi logika. Dengan demikian, ‘fenomena’ selalu dikaitkan dengan ‘kebenaran logis’ yang ini harus ditambahkan hanya mungkin dalam suatu dunia maya. Saya menyatakan bahwa fenomena ini adalah realitas, dan bahwa fenomena ini dapat dipertentangkan dengan apa saja yang mengubah apa yang sebenarnya ke dalam ‘dunia sejati’. Kalau orang harus memberi nama yang tepat pada realitas ini, serbutannya adalah ‘kehendak untuk berkuasa’(Nietzsche)

Mahasiswa yang dikenal sebagai “Agent of Change” , sekarang sudah mengalami pergeseran nilai dan budaya, mahasiswa yang diharapkan menjadi tulang punggung Negara, dimana penelitian dan ide-ide briliannya dapat merubah stagnasi kehidupan masyarakat, tapi yang sekarang terjadi mahasiswa sibuk dengan aksesoris dirinya, sedangkan respek social diabaikannya.
Pergeseran nilai dan budaya mahasiswa tak lepas dari campur tangan pemerintah dalam dunia pendidikan di Negara ini. Mahasiswa berprestasi dan yang mempunyai ide-ide brilian dibiarkan begitu saja. Dikti yang mengadakan lomba penelitian dan karya tulis ilmiah tiap tahun, pemenangnya hanya dapat tropi dan piagam, sedangkan hasil dari pemikiran mahasiswa dibiarkan saja tidak diaplikasikannya. Tidak adanya reward dari pemerintah, membuat sebagian besar mahasiswa malas berfikir, mereka beranggapan bahwa kuliah hanya untuk mendapatkan ijazah dan dapat pekerjaan yang layak, bagaimana mau memikirkan orang lain semantara mengurus dirinya sendiri masih susah.
Penyebab lain adalah rendahnya mutu pendidikan yang diberikan kepada mahasiswa, banyak sarjana yang tidak menguasai ilmu program studi yang mereka tempuh, mereka hanya dapat gelar sedangkan ilmunya mereka tidak menguasai. Apalagi sekarang banyak kasus jual-beli nilai, ijazah instant dan semacamnya yang semakin memperburuk keadaan.
Terlepas dari semua itu, gejolak politik yang tiada henti, perebutan posisi sebagai wakil rakyat, dari tahun ketahun silih berganti, uang rakyat dihamburkan untuk kebutuhan politik, Kestabilan belum juga diraih, janji dan komitmen yang sekedar impian belaka dimana gebrakan tidak menimbulkan efek nyata yang dapat dirasakan. Kebijakan-kebijakan yang dianggap penting dan berguna malah menampakkan definitive belaka, lebih jauh merupakan beban saja bagi rakyat. Hal ini sangat berdampak pada lingkungan civitas akademika, kampus sebagai ajang untuk menunjukkan eksitensi dirinya demi mendapat pengakuan serta posisi diranah politik.
Mahasiswa sudah kehilangan pegangan, kuliah hanya untuk memenuhi persyaratan dalam dunia kerja. Padahal tugas utama mahasiswa adalah belajar demi mempersiapkan dirinya dimasa depan melalui kualitas pendidikannya, mahasiswa secara mendasar terkondisikan untuk berada pada kedudukan yang memiliki akses idealisme murni yang peka terhadap lingkungan sekitarnya, yang diharapkan dapat membawa perubahan yang lebih baik bagi Negara ini.
Kalau mahasiswa sudah mempunyai pola pikir yang stagnan dan cendrung pasif, jangan harap Negara ini akan maju, meskipun sumber daya alam kita melimpah. Kita akan selalu menjadi budak di tanah kita sendiri.(*)





mahasiswa

6 11 2008

Pada akhirnya Mahsiswa

atarbelakang sejarah, tuntutan social-politik dan potensial-inheren menjadikan mahasiswa memiliki daulat tugas yang tidak sekedar menjadi peserta didik. Fakta sejarah dan situasional kebangsaan yang masih jauh dari mengedepankan kedaulatan rakyat sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa idiom Pembangunan Indonesia hanyalah kamuflase dari pembangunan di Indonesia, maka timbulnya akibat yang sangat mengorbankan rakyat banyak hanya akan dipandang, bahwa populasi (Rakyat banyak sebagai Komoditas) adalah tidak unggul dan perlu dianulir/ dieliminasi. Maka lebih lanjut; Memberantas Kemiskinan merupakan program yang dimaksudkan untuk memberantas Orang-orang Miskin.
asyarakat yang adalah Rakyat banyak itu sendiri tiada henti untuk mengangkat harkat martabatnya dengan dayanya sendiri, namun scenario dan sistem memotong kesempatan mereka dengan menyumpal akses-akses yang sebenarnya memang menjadi hak mereka. Lanyaknya memasuki lubang jarum, usaha mereka yang sendiri tersebut. Kemungkinan yang tersisa hanya akan sebesar angka dibelakang koma (basis point) bagi ruang eksisnya. Situasi yang tidak adil tersebut akan siap menebas usaha mereka untuk tumbuh sedari dini. Keadaan tidak memungkinkan bagi mereka untuk berdaulat dengan usahanya sendiri tanpa dibantu oleh bagian lain dalam struktur social-masyarakat.
emerintah sebagai pemegang kuasa untuk mengatur tata social masyarakat justru memiliki andil besar dalam menciptakan situasi yang tidak adil tersebut.
Partai Politik yang memang pada dasarnya adalah organisasi yang berorientasi Kekuasaan, lebih menempatkan Program-program yang mengangkat harkat-martabat rakyat sebagai langkah yang kemudian setelah strategi-strategi yang berderet-deret dalam nuansa pencapaian kekuasaan itu teratasi. Urusan Rakyat nanti setelah 50 Program mengambil alih dan mempertahankan kekuasaan.
asyarakat umum kelas atas (borjuis) lebih terbiasa dan mempercayai ukuran untung rugi, diluar persoalan baik-buruk dan benar-salah, tidak ada bantuan dalam tiadanya keuntungan yang dapat diperolehnya.
rganisasi Non Pemerintah (NGO) diantara berbagai pilihan mungkin lebih memungkinkan untuk mengakomodasi bantuan terhadap kepentingan rakyat, namun terdapat fakta-fakta sosial dan akses-akses yang menjadi suport kemampuan NGO menyisakan tanda tanya pada masyarakat. Keterbukaan akses-akses NGO yang diluar kemampuan rakyat untuk mengetahuinya mengindikasikan potensi program-program NGO menjadi proyek-proyek yang mengakomodasi kepentingan mereka (NGO) dan Fundingnya . Potensi untuk mengeksploitasi dan manipulasi sosial, menjadikan rakyat khawatir dan perlu berpikir dua kali ketika kepentingannya diakomodasi NGO.
engakomodasian kepentingan rakyat hanya akan murni dan tulus dibebankan kepada generasi yang adalah calon pelaku rakyat itu sendiri. Agent yang mengedepankan nilai-nilai Humanity dan morality karena dia pulalah nantinya yang akan menggunakannya, sehingga menjaganya dengan baik akan merupakan usahanya untuk menciptakan kondisi yang baik pula dimasanya yang akan datang. Dan unsur masyarakat itu sebagaimana ditunjukkan oleh sejarah Bangsa Indonesia adalah Mahasiswa.
epentingan utama Mahasiswa adalah belajar melalui pendidikannya untuk mempersiapkan diri lebih memiliki kualitas yang prima dan bedaya membawa arah masa depan yang lebih baik. Situasional diri dan kredibilitas kepentingannya yang bermuara pada perwajahan masadepan menjadikannya secara simbolis memiliki kedudukan yang terlegitimasi secara substansial sebagai agen perubahan tersebut. Dengan tetap mengindahkan bahwa setiap manusia memiliki kecenderungan yang tidak sempurna tanpa memandang tingkatannya, Mahasiswa secara mendasar terkondisikan untuk berada pada kedudukan yang memiliki akses idealisme murni.
Berangkat dari hal diatas, maka keberadaan Mahasiswa yang berasas-potensi idealis disamping pamrih utama sebagai masyarakat pembelajar (karena kesiswaannya) menjadi penting untuk dimunculkan dalam diri calon komunitas Mahasiswa. Terlebih memandang tata kehidupan social-politik yang masih jauh dari tipikal Masyarakat Madani (social society), ditangan mahasiswa itulah titik strategis motor Agent Of Change Kerakyatan.
Sejalan dengan wacana diatas, maka selayaknyalah Mahasiswa familiar dengan dimensi keaktivisan sekaligus perangkat-perangkat inheren yang menyertainya (humanis, kritis, peka social dan kerakyatan). Lebih dari hanya berkutat dengan aspek keakademisan belaka. Para Mahasiswa mestilah lebih memahami makna kemahasiswaannya secara luas yang juga menyertakan konteks sejarahnya.
Maka dengan begitu Mahasiswa akan dapat menyadari bahwa peran setrategisnya ditengah kehidupan social-politik memiliki potensi (social of force) yang dapat membelokkan arah sejarah Bangsa .

Sin-‘06





pergerakan unitomo

6 11 2008

Sejarah Pergerakan Mahasiswa
Universitas Dr. Soetomo

Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) merupakan salah satu kampus di Surabaya yang mempunyai andil besar dalam pergerakan mahasiswa untuk menggulirkan Reformasi pada pemerintahan Orde baru tahun 1998 berbagai aksi – aksi perlawanan terhadap otoriterisme pemerintah banyak dilakukan dengan jiwa militansi dan semangat yang membara sehingga pantas ketika Unitomo dijadikan sebuah parameter bagi pergerakan mahasiswa se Surabaya oleh banyak kalangan masa itu. dengan berbagai dinamikanya pergerakan mahasiswa Unitomo tetap eksis dengan bebagai perubahan hingga sekarang.

Sejarah munculnya pergerakan mahasiswa di Unitomo telah ada jauh sebelum terjadinya Reformasi ’98 ketika munculnya SMID ( solidaritas mahasiswa Indonesia untuk demokrasi) nafas reformasi sudah berhembus dari beberapa Mahasiswa peka dan mampu mengobarkan jiwa perlawanan rakyat untuk sebuah kata perubahan. sebuah issue besar yang cukup berani dikobarkan adalah lima paket Undang – undang politik yang menimbulkan reaksi politik luar biasa dari pemerintah Orde baru disisi lain menjadi pemicu bagi perlawanan – perlawanan baru mahasiswa.

Peristiwa 27 Juli 1996 (kudatuli) bukti keditaktoran pemerintah orde baru kala itu menimbulkan berbagi macam kerusuhan di Jakarta hingga berlanjut kepada penangkapan Aktivis mahasiswa di Surabaya. dari sini pergerakan mahasiswa Unitomo muncul untuk mengawali desingan reformasi merembet ketelinga rakyat dengan menyeret organ yang bernama KAMAR (kesatuan aksi Mahasiswa dan Rakyat) mengkritisi berbagai kebijakan pemerintah Orde baru.

Pergerakan mahasiswa di Unitomo mulai memanas Saat Soeharto naik lagi sebagai Presiden pada Pemilu 1997 yang disusul naiknya harga kebutuhan pokok (krisis moneter) membuat berbagai kerusuhan terjadi di Indonesia, Aksi – aksi turun kejalan mulai marak kembali dengan berbagi macam issue – issue social walaupun pada akhirnya berpuncak pada satu Issue untuk turunkan Soeharto. pergerakan mahasiswa semakin massif ketika konser Aksi Sejuta Merah Putih pada akhir 1997 yang dihadiri oleh seniman – seniman besar dari Jakarta diantaranya Iwan Fals, Anto Baret, Sawung Jabo dan WS Rendra dll menggugah semangat mahasiswa melalui syair – syair kerakyatan.
Pergerakan mahasiswa Unitomo semakin panas pada Mei 1998 setelah beberapa Aktivis mahasiswa Tri Sakti Jakarta meninggal oleh senjata Aparat keamanan, berbagai aksi – aksi yang dilakukan semakin berani dan militan untuk menurunkan Soeharto. Aksi – aksi yang dilakukan pun tidak hanya berkutat didalam kampus. Tapi lebih sering turun kejalan dengan jumlah massa yang besar guna mempresser Soeharto untuk turun, sementara didalam kampus Intensitas diskusi dan konsolidasi lebih dimasifkan guna merespon setiap detik perkembangan yang terjadi hingga didirikan sebuah tenda besar dilapangan Unitomo sebagai tempat pengorganisiran massa selama 3 bulan. yang akhirnya lebih dikenal dengan “tenda biru” sesuai dengan sebutan Unitomo waktu itu sebagai kampus biru.

Tenda biru yang didirikan ini berbagai aktivis mahasiswa luar Surabaya yang datang, Unitomo menjadi tujuan untuk memperoleh berbagi Informasi Gerakan. banyak tokoh – tokoh nasional yang simpati kepada Reformasi banyak yang datang ke tenda biru Unitomo diantaranya Daniel S paringga, Siswono Yudho Husodo yang kala itu menjadi mantan menteri perumahan, Sucipto dari PDIP dll memberikan motivasii kepada mahasiswa karena militansi dan kemurnian gerakan yang ada.
Pergerakan Unitomo dengan dukunagn massa yang besar, pergerakan untuk reformasi di Unitomo mencapai klimaks dengan adanya Orasi terbuka oleh tokoh – tokoh nasional, beberapa dosen dan rektor Unitomo yang merupakan salah satu dari 3 rektor di Surabaya yang ikut turun ke jalan untuk mendukung reformasi

Detik – detik menjelang kejatuhan Soeharto berbagai macam bentuk aksi semakin ramai dilakukan, pelataran Unitomo tempat berdirinya tenda biru telah dipenuhi ribuan mahasiswa dari berbagai kampus dilaksanakan simulasi Pemilu untuk tidak memilih Soeharto, dilakukan sebagai penolakan terhadap kepemimpinan Soeharto





why filsafat

5 11 2008

K O D R A T

Ilustrasi Kodrat Pemikir

Cara terpenting untuk memahami apa itu filsafat tidak lain adalah dengan berfilsafat. Berfilsafat, artinya menyelidiki suatu permasalahan dengan menerapkan argumen-argumen yang filosofis. Yang dimaksud dengan argumen-argumen yang filosofis adalah argumen-argumen yang memiliki sifat-sifat: deskriptif, kritis atau analitis, evaluatif atau normatif, spekulatif, rasional, sistematis, mendalam, mendasar, dan menyeluruh. Dengan perkataan lain, berfilsafat berarti: mempertanyakan dasar dan asal-usul dari segala-galanya, mencari orientasi dasar bagi kehidupan manusia.

Dalam rangka berfilsafat itu, ada empat sikap batin yang diperlukan:

1. Keberanian untuk menguji secara kritis hal-hal yang kita yakini.

2. Kesediaan untuk mengajukan hipotesis-hipotesis tentatif dan memberikan tanggapan awal terhadap suatu pernyataan filsafat, tidak peduli sekonyol apa pun tampaknya tanggapan kita pada saat itu.

3. Tekad untuk menempatkan upaya mencari kebenaran di atas kepuasan karena “menang” atau kekecewaan karena “kalah” dalam perdebatan.

4. Kemampuan untuk memisahkan kepribadian seseorang dari materi diskusi, agar tidak menyebabkan kekaburan berpikir atau konflik pribadi sehingga dapat menghambat proses diskusi filsafat.

Pokok pertanyaan kita adalah, “Mengapa (kita) berfilsafat?” atau “Untuk apa (kita) berfilsafat?” Salah satu jawaban yang terkesan spekulatif namun paling mungkin adalah, “Karena pada suatu saat kita secara tidak sadar sudah bergelut dengan suatu permasalahan filsafat, yang dengan sendirinya jadi bahan pemikiran kita.” Meskipun kita tidak memiliki minat untuk belajar filsafat, ada masalah-masalah filsafat yang mau tak mau menarik perhatian kita. Masalah persisnya tentu berbeda dari orang ke orang. Kita mungkin akan terserap dalam suatu pembahasan filsafat walaupun persoalan yang dibahas kelihatannya sama sekali tidak “filosofis”. Entah kita seorang mahasiswa filsafat atau bukan, kita dapat saja terbawa ke arah pemikiran filsafat. Ringkasnya, setiap orang pasti menyimpan asumsi-asumsi atau keyakinan-keyakinan filsafat. Dengan demikian, pertanyaannya bukan lagi haruskah kita menangani permasalahan filsafat, melainkan bagaimanakah caranya.

Daya tarik filsafat seringkali membuat kita lebih peka terhadap hal-hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Beberapa kita yang Kristen mungkin termasuk orang-orang yang sedari kecil terbiasa mengucapkan doa “Bapak Kami” setiap pagi di sekolah tanpa pernah memikirkan bagaimana pendapat orang-orang ateis, Yahudi, atau non-Kristiani lain mengenai hal itu. Ada orang-orang dewasa yang kerap menguliahi anak-anak mereka tentang betapa jahatnya pengaruh ganja, sementara mereka sendiri sibuk membereskan meja dan mempersiapkan minuman alkohol untuk pesta akhir pekan bersama kawan-kawan. Kita hidup dalam sistem yang konon berprinsip perdagangan bebas, tetapi dalam sistem itu perusahaan yang lebih besar dan lebih kuat bisa mendapatkan perlakuan khusus dari Pemerintah, sementara perusahaan-perusahaan yang lebih kecil tertindas dan berguguran. Lalu, bagaimana dengan “semua sama di depan hukum”? Benar, kita semua tentu setuju, meskipun nyatanya orang-orang kaya mempunyai posisi yang lebih baik untuk menghindar dari tuntutan hukum dibanding mereka yang miskin. Contoh lain, bagaimana dengan mereka yang meyakini adanya U.F.O.? Orang-orang gila? Akan tetapi, kemungkinan mereka mengalami gegar budaya ternyata jauh lebih kecil dibanding kita yang tidak percaya U.F.O., yakni ketika atau apabila suatu saat nanti terungkap bahwa ternyata “kita tidak sendirian” di alam raya ini. Di bawah ini, di tingkat akar rumput macam inilah, awal mula berkembangnya persoalan besar filsafat.

Rangsangan untuk mulai berfilsafat seringkali muncul ketika orang berhadapan dengan sebuah pernyataan yang dirasanya sebagai keliru. Misalnya, kita pasti akan terusik ketika mendengar pernyataan sembrono semacam ini: “Orang tidak harus bertanggungjawab atas perbuatannya.” Contoh lain, orang ateis mana yang tidak akan tergelitik oleh pernyataan, “Allah benar-benar ada, dan saya telah menemukan alasan-alasan untuk membuktikannya”? Jika suatu pernyataan ternyata didukung oleh argumentasi yang masuk akal, orang bisa kehabisan akal. Dalam benaknya berkecamuk: pernyataan itu mustahil benar, tapi sepertinya alasan-alasan yang masuk akal juga untuk mempercayai kebenarannya.

Bahkan, mereka yang tidak menaruh minat pada teori-teori filsafat bisa saja tertarik pada satu dua permasalahan filsafat tertentu. Tujuan utama pengantar filsafat biasanya adalah mengamati beberapa contoh penting permasalahan filsafat. Teori-teori filsafat, yang seringkali kompleks dan tak jarang rumusannya aneh-aneh itu, kiranya tidak akan menarik minat sebelum seseorang tahu bagaimana teori-teori tersebut sebenarnya menjawab permasalahan filsafat yang dihadapinya. Percuma memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang belum diajukan.

Sama seperti kaum profesional lainnya, para filsuf seringkali menulis dalam bahasa khusus menurut spesialisasi bidangnya dalam mempertahankan atau mengkritik suatu teori. Tidak jarang, teori-teori yang disoroti merupakan reaksi atas masalah-masalah yang lain lagi. Namun, tidak peduli sekompleks dan seberat apapun, teori-teori tersebut pada dasarnya adalah tanggapan terhadap masalah-masalah biasa seni, moralitas, ilmu pengetahuan, agama, dan akal sehat. Di pinggiran-pinggiran wilayah keseharian inilah para filsuf menemukan soal-soal yang tersembunyi; mereka tidak mengadakan masalah. Di dalam wilayah keseharian itu tersimpan masalah-masalah yang sangat mungkin akan membawa seseorang masuk ke dalam suatu kajian filsafat secara umum.

Untuk memberi gambaran, mari kita lihat bagaimana orang-orang yang bukan filsuf dapat terbawa kepada pemikiran filsafat, biasanya melalui persoalan-persoalan yang secara langsung relevan dengan kepentingan mereka. Perhatikan contoh-contoh berikut:

1. Seorang neuropsikolog, yang sedang meneliti korelasi antara fungsi-fungsi tertentu otak manusia dan rasa sakit, mulai sangsi, apakah “akal budi” sungguh berbeda dengan otak.

2. Seorang ahli fisika nuklir, setelah berketetapan bahwa materi sebagian besar adalah ruang hampa yang di dalamnya terjadi transformasi-transformasi energi tanpa warna, mulai bertanya-tanya, sejauh manakah dunia yang padat, berkeluasan, dan berwarna seperti yang kita persepsikan ini berkaitan dengan keberadaannya yang sesungguhnya dan manakah di antara keduanya itu yang lebih “nyata”.

3. Seorang psikolog aliran behaviorisme, yang semakin berhasil memprediksikan perilaku manusia, bertanya-tanya, adakah tindakan manusia yang dapat dikatakan “bebas”.

4. Mahkamah Agung, ketika merumuskan suatu peraturan tentang karya seni yang sopan dan yang tidak sopan, terpaksa harus bergelut dengan pertanyaan tentang hakikat dan fungsi seni.

5. Seorang teolog, setelah kalah perang melawan sains mengenai arti harfiah alam semesta (atau “kenyataan”), terpaksa harus merumuskan kembali seluruh tujuan dan cakupan teologi tradisional.

6. Seorang antropolog, yang mengamati bahwa setiap masyarakat ternyata memiliki konsepsinya sendiri tentang kode moral, mulai mempertanyakan apa sebenarnya yang membedakan antara sudut pandang moral dan sudut pandang bukan moral.

7. Seorang ahli bahasa, dalam penyelidikannya tentang bagaimana bahasa membentuk pandangan kita terhadap dunia, menyatakan bahwa tidak ada satu “kenyataan sejati” karena semua pandangan mengenai kenyataan dikondisikan dan dibatasi oleh bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan pandangan-pandangan itu.

8. Seorang skeptis sejati, yang telah terbiasa menuntut dan menolak bukti-bukti absolut bagi setiap sudut pandang yang ditemuinya, menyatakan bahwa tidak mungkin bagi manusia untuk mengetahui apapun.

9. Seorang komisaris daerah, ketika harus menentukan peraturan baru mengenai pembatasan wilayah, mulai bertanya-tanya, apakah akibat ataukah maksud (ataukah keduanya) yang menyebabkan peraturan itu diskriminatif.

10. Seorang kepala perpajakan, ketika harus menentukan organisasi-organisasi religius mana saja yang harus dibebaskan dari pajak, terpaksa harus merumuskan apa yang dimaksudkan dengan “religius” dan apa “kelompok religius”.

11. Seorang ibu, yang bertekad untuk “mempertobatkan” anaknya yang komunis, terpaksa harus membaca Comunist Mainfesto dan belajar mengenai ideologi Marx dan kapitalis.

Daftar itu masih bisa kita tambahi dengan sekian banyak contoh lain. Yang jelas, kita sudah dapat melihat bahwa ketika dihadapkan dengan suatu persoalan yang relevan, bahkan orang yang bukan filsuf pun sangat mungkin tergiring ke dalam suatu pemikiran filsafat. Jika orang yang bukan filsuf itu tetap tidak dapat melihat pentingnya tujuan bidang filsafat, cobalah mengajukan suatu permasalahan filsafat yang secara khusus berkaitan dengan minat atau kepentingannya. Ketika ia menguji kemungkinan-kemungkinan jawaban atas permasalahannya, mungkin ia akan menemukan kecenderungan atau kertertarikan pada suatu tesis filsafat tertentu.

Kita mungkin baru sadar bahwa diri kita sudah ada di dalam filsafat dan terlibat dalam persoalan-persoalannya, tidak hanya berdiri di luar dan menunggu sampai diyakinkan bahwa kita harus terlibat di dalamnya. Bolehlah dikatakan bahwa kodrat berfilsafat telah ada di dalam diri setiap manusia, karena lingkungan dan bahkan kita sendiri sesungguhnya telah menyimpan permasalahan-permasalahan filsafat. Kita dapati di sini sebagian dari kebenaran pernyataan bahwa “Semua orang memang filsuf”. Namun harus dicatat juga bahwa sedikit sekali orang yang berfilsafat secara sistematis. Karena disadari bahwa untuk itu diandaikan suatu sikap ilmiah yang baru diperoleh setelah studi bertahun-tahun.

Demikian Magnis, “Kalau berfilsafat disamakan dengan berkhayal saja, dengan berpikir berputar-putar tanpa tertib, kalau filsafat dipakai sebagai pentil untuk mengelamun, saya kira filsafat semacam itu tidak kita perlukan. Biarpun laku dalam masyarakat, biarpun dapat barangkali kita jual kepada orang awam sebagai ‘kebijaksanaan’, sebenarnya kita mengibulkan masyarakat dengan itu. Kita akan menjadi tukang candu sebagaimana dituduhkan Marx kepada agama.”

MANFAAT (1)

Apa manfaat filsafat bagiku?

Bagi banyak orang, pertanyaan “Untuk apa berfilsafat?” menyiratkan suatu kepentingan praktis, yaitu “Apa manfaat filsafat untukku, selain pengetahuan demi pengetahuan itu sendiri?” Ada sebuah jawaban yang juga praktis untuk pertanyaan itu. Keterlibatan kita secara kritis dalam filsafat dapat mengubah keyakinan-keyakinan dasar kita, termasuk sistem nilai yang kita miliki dan bagaimana kita memandang dunia secara umum.

Perubahan sistem nilai atau pandangan-pandangan dunia kita itu dapat mengubah perspektif kebahagiaan kita, tujuan yang hendak kita kejar dalam profesi kita, atau sekadar gaya hidup kita. Namun, manfaat-manfaat itu lebih merupakan hasil sampingan saja, bukan tujuan yang spesifik, dari kajian filsafat.

Tidak sulit untuk mencari contoh relevansi praktis yang muncul ketika kita mengambil pandangan filsafat tertentu. Misalnya, jika betul tidak ada tindakan yang benar-benar bebas, maka kita harus mempertimbangkan kembali pandangan kita mengenai hukuman mati dan rehabilitasi para narapidana. (Mengapa harus menghukum orang yang tidak mampu mengendalikan perbuatannya?) Contoh lain, pilihan yang kita jatuhkan dalam pemungutan suara berkaitan dengan pro-kontra suatu masalah atas pemilihan seorang kandidat dapat sangat dipengaruhi oleh pandangan filsafat politik tertentu yang kita miliki. Contoh lain lagi, jika betul keindahan itu hanya ada di mata pengamat, bagaimana kita dapat menentukan bahwa suatu karya seni layak dianugerahi penghargaan sebagai karya seni “terbaik”? dan konsepsi kita mengenai perilaku mana yang bermoral dan mana yang tidak bermoral niscaya akan berakibat sangat jauh bagi relasi personal kita dengan orang lain.

Lebih lanjut, seandainya saja kita melihat bahwa diri kita merupakan bagian tak terpisahkan dari alam, barangkali kita tidak akan terlalu bernafsu menguasai dan menaklukkannya, dan kita pun mungkin tidak akan terlalu menderita akibat tindakan perusakan alam. Contoh lain, jika dalam arti tertentu pandangan dunia Barat dapat “di-Timur-kan”, maka akan lebih mudah bagi orang Barat untuk menjelaskan dan menerima fenomena akupuntur. Itu semua hanya beberapa contoh untuk menunjukkan relevansi kajian permasalahan filsafat dengan kehidupan sehari-hari. Bacalah juga beberapa jurnal filsafat. Di situ kita mungkin akan menjumpai artikel-artikel dengan judul semacam ini: “IQ: Keturunan dan Ketidakadilan”, “Eutanasia”, “Perilaku Paternalistik”, “Memaklumi Pemerkosaan”, atau “Rudal dan Moral: Pandangan Utilitarian tentang Perlucutan Senjata Nuklir”.

Sebelum kita beranjak lebih jauh, ada satu hal yang perlu diingat. Penelusuran sebab-sebab terjadinya perubahan pada keyakinan-keyakinan dasar seseorang seringkali adalah persoalan psikologi, bukan tugas filsafat, dan tidak dapat ditangani oleh seorang filsuf. Memang perubahan semacam itu dapat terjadi karena seseorang mempelajari filsafat, sama seperti karena ia mempelajari bidang studi lain atau karena ia mendapat tekanan dari teman-teman sebayanya. Namun, dengan berfilsafat atau melibatkan diri secara kritis dalam persoalan-persoalan filsafat, tidak ada jaminan bahwa keyakinan-keyakinan seseorang akan berubah. Juga tidak bisa dikatakan bahwa memang sebaiknya terjadi perubahan. Ada orang yang merasa bahwa dengan mempelajari filsafat keyakinan agamanya semakin diteguhkan, sementara orang lain justru mengalami guncangan. Para filsuf tidak pernah berusaha dengan sengaja menimbulkan kedua macam reaksi itu.

MANFAAT (2)

Apa manfaat filsafat bagiku?

Kita akan memetik manfaat bukan hanya dari keterlibatan diri kita dalam filsafat pada umumnya, melainkan juga secara khusus dari kegiatan melakukan telaah atau kajian filsafat. Penelaahan filsafat yang efektif, sekali lagi, bersifat luas, mendalam, dan kritis. Relevansi kritis dari penelaahan semacam itu tidak dapat dipungkiri. Singkatnya, dengan melakukan telaah filsafat, kita akan semakin mandiri secara intelektual, lebih toleran terhadap perbedan sudut pandang, dan semakin membebaskan diri dari dogmatisme.

Pertama, sikap-sikap yang disebutkan di atas dapat berkembang karena luasnya kajian filsafat yang kita lakukan. Perhatikan pertanyaan, “Apakah yang menjadikan tindakan yang benar itu benar?” Banyak jawaban yang secara sepintas nampaknya dapat diterima: besarnya kebahagiaan yang dihasilkan oleh suatu tindakan, kepentingan pribadi, kelangsungan hidup spesies manusia, desakan suara hati, atau apapun yang menurut masyarakat benar. Tidak satupun dari jawaban itu mutlak harus diterima oleh semua filsuf. Barangkali tidak ada disiplin lain yang sedemikian setia untuk melakukan telaah yang ketat dan tidak berat sebelah terhadap “sudut pandang orang lain”. Sudut pandang orang lain itu mungkin nampaknya tidak masuk akal, namun tidak jarang didukung dengan argumen-argumen yang kuat. Menyadari bahwa selain pandangan diri sendiri ternyata ada pandangan-pandangan lain yang argumennnya kokoh, dapat menjadi pengalaman yang membuat frustrasi atau justru membebaskan. Apapun hasilnya, kesadaran itu membuka pintu bagi sikap toleran dan bebas dari dogmatisme.

Kedua, kebebasan intelektual dan sikap-sikap lainnya yang berkaitan, akan kita peroleh dengan mengkaji persoalan-persoalan filsafat secara mendalam. Dalam suatu kuliah filsafat, misalnya, kita berkesempatan untuk menyelidiki tema-tema yang dalam kuliah lain hanya dibicarakan sambil lalu. Misalnya, dalam kuliah pengantar ilmu pengetahuan kerap dinyatakan bahwa ilmu pengetahuan didasarkan pada prinsip determinisme, yakni keyakinan bahwa segala persitiwa pasti memiliki sebab. Dalam kuliah sosiologi dan antropologi, tesis bahwa moral berbeda-beda dalam setiap kebudayaan sering dinyatakan sebagai bukti atas klaim kontroversial bahwa benar dan salah semata-mata adalah soal kesukaan dan ketidaksukaan seseorang atau sekelompok orang belaka. Dalam kuliah seni, seorang mahasiswa mungkin akan mengatakan bahwa tidak ada kriteria untuk membedakan seni yang baik dari yang buruk; yang ada hanyalah suka atau tidak suka pada yang kita lihat. Masing-masing pernyataan tesebut, dan masih dapat ditambah dengan banyak contoh lain, mengandung berbagai asumsi, implikasi, dan ambiguitas yang biasanya jarang disentuh. Pernyataan-pernyataan semacam itu kerap diterima begitu saja secara tidak kritis sebagai “kebenaran”. Filsafat mengajak kita untuk menguji dan mempersoalkan kembali dogma-dogma yang telah kita anggap benar, mengajak kita untuk mengambil posisi dan menetapkan pendirian.

Yang ketiga adalah penilaian kritis. Tujuan berfilsafat bukan sekadar meninjau berbagai macam teori, tetapi juga menilainya secara kritis. Entah apapun kesimpulan akhir kita mengenai persoalan tertentu, kita tetap dapat mengembangkan sikap yang kritis secara umum. Sikap kritis berarti tidak menerima sesuatu begitu saja hanya berdasarkan autoritas, mencermati asumsi-asumsi dan ambiguitas-ambiguitas dalam setiap pernyataan yang dapat dipersoalkan (termasuk pernyataan kita sendiri), menolak ikut arus pendapat umum, dan mencari penjelasan dan alasan-alasan bagi hal-hal yang oleh orang lain dianggap sudah jelas. Inilah unsur-unsur kemandirian intelektual. Inti filsafat adalah membentuk pemikiran, bukan sekadar mengisi kepala dengan fakta-fakta.

Ringkasnya, berfilsafat – mengkaji permasalahan filsafat secara serius – memberikan manfaat pribadi dalam dua cara. Pertama, pengkajian filsafat dapat membawa kepada perubahan keyakinan dan nilai-nilai dasar seseorang, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi arah kehidupan pribadi maupun profesinya. Kedua, pengkajian filsafat dapat membuahkan kebebasan dari dogmatisme, toleransi terhadap pandangan-pandangan yang berbeda, serta kemandirian intelektual.Namun, sudah disinggung sebelumnya, tidak ada jaminan bahwa pengkajian filsafat pasti akan menghasilkan buah-buah itu. Tentu ada hal-hal lain yang juga dapat mengembangkan toleransi, kemandirian intelektual, ataupun perubahan nilai dan keyakinan dasar seseorang. Filsafat hanyalah salah satu alternatif terbaik.

Mungkin, beberapa dari kita ada yang mempertanyakan apa sebenarnya manfaat praktis yang “nyata” dari mempelajari filsafat, taruhlah dalam soal mencari pekerjaan? Memang, gelar sarjana dalam bidang filsafat tidak akan mempersiapkan kita untuk suatu pekerjaan tertentu, selain mempersiapkan kita untuk studi tingkat pasca-sarjana atau mengajar. Lain halnya dengan bidang-bidang studi lain yang lebih teknis sifatnya. Kelebihan filsafat adalah bahwa ia memperlengkapi kita untuk berbagai bidang non-akademis, dan dalam banyak hal dapat membantu kita mengembangkan diri dalam karier yang kita pilih.

Posisi-posisi kepemimpinan dan yang memikul tanggung jawab dalam berbagai profesi – kedokteran, hukum, teologi, bisnis, dan lain-lain – menuntut seseorang untuk bergulat dengan permasalahan filsafat. Setiap orang bisa menghafalkan fakta-fakta, sebagaimana yang biasa kita lakukan di sekolah dulu. Namun, lapangan kerja di dunia nyata menuntut jauh lebih banyak dari sekadar menghafalkan fakta-fakta, jika kita memang ingin berhasil dan unggul. “Fakta-fakta” masih perlu dipertanyakan, disusun ulang, ditinjau dari berbagai perspektif, disingkirkan, dipungut lagi, diuji, dan ditimbang-timbang terus secara logis, jelas dan inovatif. Kemampuan untuk melakukan semua itulah yang hendak diperoleh dari belajar filsafat ataupun berfilsafat, entah dari bidang mana pun fakta-faktanya berasal.

Ringkasnya, mengkaji permasalah filsafat secara serius memberikan manfaat pribadi dalam dua cara. Pertama, pengkajian filsafat dapat membawa kepada perubahan keyakinan dan nilai-niali dasar seseorang, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi arah kehidupan pribadi maupun profesinya. Kedua, pengkajian filsafat dapat membuahkan kebebasan dari dogmatisme, toleransi terhadap pandangan-pandangan yang berbeda, serta kemandirian intelektual. Namun, sudah disinggung di atas, tidak ada jaminan bahwa pengkajian filsafat pasti akan menghasilkan buah-buah itu. Tentu ada hal-hal lain yang juga dapat mengembangkan toleransi, kemandiran intelektual ataupun perubahan nilai dan keyakinan dasar seseorang. Filsafat hanyalah salah satu alternatif terbaik.

“Fakta-fakta” masih perlu dipertanyakan, disusun ulang, ditinjau dari berbagai perspektif, disingkirkan, dipungut lagi, diuji dan ditimbang terus secara logis, jelas, dan inovatif. Kemampuan untuk melakukan semua itulah yang hendak dikembangkan melalui kegiatan berfilsafat itu sendiri – yang pada hakikatnya merupakan sebuah latihan juga, entah dari bidang manapun fakta-faktanya berasal.

F U N G S I

Ilustrasi Relativitas Fungsi

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa studi filsafat semakin menjadikan orang mampu untuk menangani pertanyaan-pertanyaan mendasar manusia yang tidak terletak dalam wewenang metodis ilmu-ilmu spesial. Jadi berfilsafat membantu untuk mendalami pertanyaan-pertanyaan asasi manusia tentang makna realitas (filsafat teoretis) dan lingkup tanggung jawabnya (filsafat praktis). Kemampuan itu dipelajarinya dari dua jalur: secara sistematis dan secara historis. Pertama, secara sistematis. Artinya, filsafat menawarkan metode-metode mutakhir untuk menangani masalah-masalah mendalam manusia, tentang hakikat kebenaran dan pengetahuan, baik biasa maupun ilmiah, tentang tanggung jawab dan keadilan, dan sebagainya.

Jalur kedua adalah sejarah filsafat. Di situ orang belajar untuk mendalami, menanggapi, serta belajar dari jawaban-jawaban yang sampai sekarang ditawarkan oleh para pemikir dan filsuf terkemuka terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Kemampuan ini memberikan sekurang-kurangnya tiga kemampuan yang memang sangat dibutuhkan oleh segenap orang yang di jaman sekarang harus atau mau memberikan pengarahan, bimbingan, dan kepemimpinan spiritual dan intelektual dalam masyarakat.

1. Suatu pengertian lebih mendalam tentang manusia dan dunia. Dengan mempelajari pendekatan-pendekatan pokok terhadap pertanyaan-pertanyaan manusia yang paling hakiki, serta mendalami jawaban-jawaban yang diberikan oleh para pemikir terbesar umat manusia, waawasan dan pengertian kita sendiri diperluas.

2. Kemampuan untuk menganalisis secara terbuka dan kritis argumentasi-argumentasi, pendapat-pendapat, tuntutan-tuntutan dan legitimasi-legitimasi dari berbagai agama, ideologi dan pandangan dunia. Secara singkat, filsafat selalu juga merupakan kritik ideologi. Justru kemampuan ini sangat diperlukan dewasa ini di mana kebudayaan merupakan pasaran ide-ide dan ideologi-ideologi religius dan politis yang mau membujuk manusia untuk mempercayakan diri secara buta kepada mereka. Dalam situasi ini sangat diperlukan kemampuan untuk tidak sekadar menolak ideologi-ideologi itu secara dogmatis dan dari luar, melainkan untuk menanggapinya secara kritis dan argumentatif.

3. Pendasaran metodis dan wawasan lebih mendalam dan kritis dalam menjalani studi-studi di ilmu-ilmu spesial, termasuk teologi.

Dengan mempertimbangkan hal di atas, dapat dikatakan bahwa filsafat, demikian kegiatan berfilsafat, sangat diperlukan oleh profesi-profesi seperti pendidik, wartawan, pengarang dan penerbit, budayawan, sosiolog, psikolog, ilmuwan politik, agamawan, dan teologi

Di samping itu, filsafat juga mempunyai fungsi khusus dalam lingkungan sosial budaya Indonesia:

1. Bangsa Indonesia berada di tengah-tengah dinamika proses modernisasi yang meliputi semakin banyaknya bidang dan hanya untuk sebagiannya dapat dikemudikan melalui kebijakan pembangunan. Menghadapi tantangan modernisasi dengan perubahan pandangan hidup, nilai-nilai dan norma-norma itu, filsafat membantu untuk mengambil sikap yang sekaligus terbuka dan kritis.

2. Filsafat merupakan sarana baik untuk menggali kembali kekayaan kebudayaan, tradisi-tradisi, dan filsafat Indonesia untuk mengaktualisasikannya bagi Indonesia modern yang sedang kita bangun.Filsafatlah yang paling sanggup untuk mendekati warisan rohani tidak hanya secara museal dan verbalistik, melainkan secara evaluatif, kritis dan refleksif, sehingga kekayaan rohani bangsa dapat menjadi modal dalam pembentukan terus-menerus identitas modern bangsa Indonesia.

1. 3.Sebagai kritik ideologi, filsafat membangun kesanggupan untuk mendeteksi dan membuka kedok-kedok ideologis pelbagai bentuk ketidakadilan sosial dan pelanggaran-pelanggaran terhadap martabat dan hak-hak asasi manusia yang masih terjadi. Jadi filsafat membuat sanggup untuk melihat secara terbuka masalah-masalah sosial serta percaturan kekuasaan yang sedang berlangsung.

2. 4.Filsafat merupakan dasar paling luas untuk berpartisipasi secara kritis dalam kehidupan intelektual bangsa pada umumnya dan khususnya dalam kehidupan intelektual di universitas-universitas dan lingkungan akademis. Filsafat dapat berfungsi sebagai interdisipliner sistem, tempat bertemunya berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Di universitas-universitas, fakultas filsafat sering disebut “fakultas sentral” atau “inter-fakultas”, karena semua fakultas lain, yang selalu menyelidiki salah satu segi dari kenyataan, menjumpai pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan refleksi yang tidak lagi termasuk bidang khusus mereka. Misalnya, pertanyaan tentang batas-batas pengetahuan kita, tentang asal bahasa, tentang hakikat hidup, tentang hubungan badan dan jiwa, tentang hakikat materi, tentang dasar moral.

3. 5.Salah satu fungsi terpenting filsafat adalah bahwa ia menyediakan dasar dan sarana sekaligus bagi diadakannya dialog di anatara agama-agama yang ada di Indonesia pada umumnya dan secara khsus dalam rangka kerja sama antar-agama dalam membangun masyarakat adil-makmur. Jadi filsafat adalah dasar bagus bagi dialog antar-agama, karena argumentasinya mengacu pada manusia dan rasionalitas pada umumnya, tidak terbatas pada pendekatan salah satu agama tertentu, itu pun tanpa mengurangi pentingnya sikap beragama. Justru para agamawan memerlukan filsafat supaya dapat bicara satu sama lain dan bersama-sama memecahkan masalah-masalah sosial dan masalah-masalah nasional.

T U G A S

Filsafat

Salah satu alasan mengapa seorang berfilsafat adalah karena memang dalam diri filsafat itu sendiri mengandung suatu tugas. Kita sudah mengetahui bahwa filsafat didasari oleh suatu kebebasan berpikir, namun suatu kebebasan berpikir yang ditandai oleh hasrat keakraban dengan kebenaran yang dikandung oleh penampilan realitas. Sementara, tidak semua bentuk berpikir dalam filsafat harus terus-menerus dijamin oleh kesungguhan dan kejujuran dalam menempuh tahap-tahap pikiran menuju kebenaran, sedangkan kesaksian terhadap kesungguhan dan kejujuran ini tidak bisa diterapkan oleh orang lain kecuali oleh nurani filsuf yang bersangkutan.

Oleh karenanya, orang yang berfilsafat adalah orang yang berpikir sambil bertanggungjawab. Di sinilah letak tugasnya, yang sudah menjadi sifat filsafat itu sendiri, yang terpenting. Refleksi tentang ini diuraikan dengan bagus oleh sejumlah pemikir jaman kita, seperti Karl Popper, Gabriel Marcel dan Alfred North Whitehead.

Karl Popper

Tugas filsafat sekarang ini, menurut Sir Kal Popper (lahir di Wina 1902, mengajar filsafat di Inggris, Selandia Baru dan Amerika Serikat), lebih-lebih “berpikir kritis tentang alam raya dan tentang tempat manusia di dalamnya; berpikir tentang kemampuan-kemampuan pengetahuan kita dan kemampuan-kemampuan kita terhadap kebaikan dan kejahatan”. (K. Popper, “How I See Philosophy”, dalam: Ch. Bontempo – S. Jack Odell, The Owl of Minerva, Philosophers on Philosophy, New York 1975, hlm. 55.)

Hidup kita di dunia ini – sebuah planet kecil dalam kosmos yang sebagian besar kosong – merupakan suatu misteri besar. Hidup mempunyai nilai sebagai sesuatu yang sangat istimewa. Hidup itu mahal. Kita cenderung untuk melupakan itu dengan memandanganya sebagai sesuatu yang murah.

“Semua orang adalah filsuf, karena semua mempunyai salah satu sikap terhadap hidup dan kematian. Ada orang yang berpendapat bahwa hidup itu tanpa harga, karena hidup ini akan berakhir. Mereka tidak menyadari bahwa argumen yang terbalik juga dapat dikemukakan, yaitu bahwa – kalau hidup tidak akan berakhir – hidup tanpa harga, dan bahwa bahaya yang selalu hadir, yaitu bahwa kita dapat kehilangan hidup, sekurang-kurangnya ikut menolong untuk menyadari nilai dari hidup.” (K. Popper, “How I See Philosophy”, hlm. 55.)

* Gabriel Marcel

Gabriel Marcel (lahir di Paris 1889, meninggal 1973) melihat filsafat sebagai “reconaissance”. Kata Perancis ini berarti sekaligus “mengingat”, “mengakui”, “menyelidiki” dan “berterima kasih”. Gabriel Marcel menekankan dua arti, yaitu “penyelidikan” dan “sikap berterima kasih” atau “penghargaan”. Kedua arti ini dari “reconaissance” (dalam bahasa Inggris “recognation” dan “acknowledgement”) memperlihatkan kedua dimensi pengetahuan manusia: masa lampau dan masa depan.

Terhadap masa lampau kita harus berterima kasih, mengakui bahwa kita berhutang. “Reconaissance” ini dilupakan oleh para teknokrat dan ideolog. Karena mereka hanya memilih salah satu unsur atau ajaran dari seluruh warisan sejarah filsafat. Dan bagian kecil ini – misalnya ajaran Marx – kemudian didewakan. Sikap ini berarti suatu devaluasi dari semua sistem yang mendahului sistem satu-satunya yang didewakan itu

Terhadap masa depan kita harus terbuka: siap untuk menyelidiki dan menerima.

Tugas filsafat sekarang ini, kata Gabriel Marcel, terdiri dari kedua jenis “reconaissance” ini: sikap penghargaan dan sikap keterbukaan, kerelaan untuk menerima, “acceptance”. Dengan demikian filsafat menjadi suatu “re-thinking”, suatu refleksi kedua yang dapat mengatasi jurang yang dialami manusia dalam jaman kita, yaitu jurang antara sikap teknis dan analitis di satu pihak dan hidup di lain pihak. (G. Marcel, “Philosophy as I See it Today”, dalam Ch. Bontempo – S. Jack Odell, The Owl of Minerva, Philosophers on Philosophy, New york 1975, hlm. 119-122.)

Gabriel Marcel mengemukakan sesuatu yang sangat klasik. Plato sudah mengajar bahwa “mengetahui” sebetulnya “mengingat”, dan Hediegger mengatakan bahwa “berpikir” (dalam bahasa Jerman “denken, bahasa Inggris “to think”) harus bersifat “berterima kasih” (dalam bahasa Jerman “danken”, bahasa Inggris “to thank”). Berpikir itu sesuatu yang dianugerahkan kepada kita, sesuatu yang harus dihargai dan diterima.

Alfred North Whitehead

Alfred North Whitehead (1861-1947 mengajar matematika dan filsafat di Cambridge, Inggris, dan di Harvard, Amerika Serikat) menguraikan tugas filsafat dengan kata-kata ini:

Filsafat itu tidak salah satu ilmu di antara ilmu-ilmu lain. “Filsafat itu pemeriksaan (‘survey’) dari ilmu-ilmu, dan tujuan khusus dari filsafat itu menyelaraskan ilmu-ilmu dan melengkapinya.” (A.N. Whitehead, Science and the Modern World, Cambridge 1953, hlm. 108.)

Filsafat mempunyai dua tugas: menekankan bahwa abstraksi-abstraksi dari ilmu-ilmu betul-betul hanya bersifat abstraksi (maka tidak merupakan keterangan yang menyeluruh), dan melengkapi ilmu-ilmu dengan cara ini: membandingkan hasil ilmu-ilmu dengan pengetahuan intuitif mengenai alam raya, pengetahuan yang lebih konkret, sambil mendukung pembentukan skema-skema berpikir yang lebih menyeluruh.

Definisi Whitehead ini – filsafat sebagai “survey of sciences” – diterima oleh banyak orang dewasa ini. Definisi Whitehead masih dapat diperluas sedikit: filsafat itu tidak hanya “survey of sciences”, melainkan juga “survey” (atau”re-thinking”) dari semua ideologi, semua interpretasi mengenai dunia, dan dari seluruh kenyataan manusiawi.

Ketiga uraian dari Popper, Marcel dan Whitehead dapat dibaca sebagai satu definisi: Tugas filsafat itu “berpikir kritis tentang alam raya dan tentang tempat kita di dalamnya (Popper), “re-thinking” dengan “sikap keterbukaan dan penghargaan” (Marcel), penyelidikan kritis mengenai hasil ilmu-ilmu abstrak untuk mencapai suatu gambaran yang lebih menyeluruh (Whitehead).

Istilah-istilah lain yang sekarang sering terdengar dalam uraian-uraian mengenai tugas filsafat: “re-interpretasi” kenyataan manusiawi, “penciptaan suatu bahasa umum yang dapat dipakai sebagai bagian dari semua ilmu khusus”, “dialog yang mendamaikan abstraksi-abstraksi dan spesialisme-spesialisme ilmu-ilmu”, dan “mencari hikmat di tengah semua pengetahuan”.

Tidak begitu penting uraian mana yang dipilih. Yang penting adalah suatu sikap tertentu, yaitu sikap keterbukaan dalam berfilsafat dan memikul tugas yang memang sudah melekat padanya. Cakrawala pengetahuan kita semakin luas. Namun kita tidak boleh melupakan bahwa pengetahuan yang luas ini tidak pernah utuh. Kita tidak “memiliki” kebenaran. Filsafat mencari kebenaran, dan itu mulai dengan menyadari betapa sedikit yang sungguh kita ketahui.





mitos

5 11 2008

Prawacana

MITOS POHON FILSAFAT

Mitos-Mitos Seputar Filsafat

Konon, filsafat itu amat sulit. Sedikit sekali orang yang mampu mempelajarinya. Bahkan, kata orang, jangan terlalu serius belajar filsafat! Bila otak tidak kuat, jangan-jangan kita menjadi gila karenanya! Buat apa mengambil risiko ini, padahal konon filsafat itu sesuatu yang abstrak, jauh dari kehidupan kita sehari-hari?

Hmm, memang ada banyak mitos mengenai filsafat seperti itu. Malahan mitos-mitos itu beredar tidak hanya di kalangan awam. Sebagian agamawan berpandangan, memegang erat-erat kitab suci sebagai pegangan hidup sudah lebih dari cukup, sehingga filsafat yang tidak menjanjikan kebenaran-mutlak tidak diperlukan. Sebagian ilmuwan mengira, mereka berkewajiban untuk melepaskan diri secara total dari filsafat untuk mempertahankan keilmiahan mereka. Sebagian seniman merasa, filsafat tidak akan membantu kita dalam menikmati keindahan. Sebagian usahawan bilang, filsafat hanya membuang waktu karena tidak akan menghasilkan laba.

Dalam buku ini, Stephen Palmquist berusaha mempertanyakan mitos-mitos yang seperti itu. Secara tersirat ia mengatakan, semua orang yang berakal sehat bisa mempelajari filsafat dan bahkan mampu berfilsafat! Dalam beragama ada filsafatnya, dalam bersantap fried chicken pun ada filsafatnya. Begitu pula dalam berilmu, berpolitik, berbahasa, berbisnis, dan lain-lain.

Secara demikian, apakah Palmquist menyarankan agar kita membabat habis segala mitos? Sama sekali tidak. Ia justru menyatakan, ada beberapa mitos yang tidak bisa dilenyapkan. Bahkan, filsafat pun membutuhkan mitos tertentu. Ada banyak mitos yang memiliki potensi yang dahsyat. Apabila dibudidayakan dengan cara sebaik-baiknya, mitos itu bisa memberi hasil positif yang luar biasa. Umpamanya, mitos bahwa “filsafat itu laksana pohon”.

The Tree of Philosophy sebagai Mitos

Menyajikan filsafat dalam bentuk mitos adalah sesuatu yang unik. Dengan cara ini, filsafat yang terkesan rumit dan tidak beraturan dapat disampaikan dengan gambaran yang sangat sistematis dan sekaligus seutuhnya. Hubungan antarunsur filsafat pun bisa ditata dengan rapi.

Hal itu penting karena uraian yang tidak utuh, sepenggal-sepenggal, dan tidak teratur, meloncat-loncat, cenderung menyesatkan pembacanya, terutama kalangan pemula. Dalam penggunaan itu, The Tree bisa dibilang sukses dalam menjalankan fungsinya sebagai mitos, setidak-tidaknya pada diri saya dan barangkali pada hampir semua mahasiswa yang memanfaatkan buku ini.

Akan tetapi, sesungguhnya saya pada pandang pertama kurang tertarik akan buku ini ketika melihat judulnya, The Tree of Philosophy (Pohon Filsafat). Kata “pohon”, bagi saya, menyiratkan sesuatu yang cenderung statis–sesuatu yang kurang saya sukai waktu itu tatkala saya berada dalam suasana euforia reformasi. Namun setelah mulai membaca isinya, saya agak tercengang. Ternyata filsafat yang digambarkan di sini merupakan suatu disiplin yang statis (kokoh) dan sekaligus dinamis (berkembang)!

Saya berasumsi, sebagian besar dari pembaca edisi Indonesia ini pun memiliki mitos tertentu tentang pohon. Bila saya menerjemahkan judul The Tree of Philosophy secara harfiah, yakni “Pohon Filsafat”, saya khawatir bahwa anda pada pandang pertama akan berprasangka negatif dan karenanya enggan membuka-buka buku ini lebih lanjut. Oleh sebab itu, saya mengubah judul itu, sepersetujuan penulis asli, menjadi Filsafat Mawas (The Perspectival Philosophy).

Filsafat Mawas di Antara Pengantar Filsafat Lainnya

Secara garis besar, kelihatannya ada lima jenis pendekatan utama yang dipakai dalam pembelajaran Pengantar Filsafat (Filsafat Umum atau Filsafat Barat).

Yang kesatu adalah pendekatan historis dengan berbagai variasinya. Metode ini sering dipandang baik bagi pemula. Dalam pendekatan ini, pemikiran para filsuf terpenting dan latar belakang mereka dipelajari secara kronologis. Contoh pemanfaat pendekatan historis yang baik ialah Jostein Gaarder, Sophie’s World.

Yang kedua adalah pendekatan metodologis. Cara ini dipandang penting mengingat bahwa cara terpenting untuk memahami filsafat adalah berfilsafat. Dalam pendekatan ini, berbagai metode berfilsafat ditimbang-timbang, kemudian metode yang dipandang terbaik diuraikan lebih lanjut untuk dapat dipergunakan sebagai pedoman berfilsafat. Contoh pemakai pendekatan metodologis yang baik ialah Mark B. Woodhouse, A Preface to Philosophy.

Yang ketiga adalah pendekatan analitis dengan berbagai variasinya. Metode ini memandang bahwa tugas utama pengantar filsafat adalah menjelaskan unsur-unsur filsafat. Dalam pendekatan ini, isi filsafat diuraikan secara sistematis dan diterangkan segamblang-gamblangnya. Contoh pengguna pendekatan analitis yang baik ialah Louis O. Kattsoff, Elements of Philosophy.

Yang keempat adalah pendekatan eksistensial. Metode ini memandang bahwa tugas utama pengantar filsafat adalah memperkenalkan jalan-hidup filosofis tanpa terbelenggu oleh sistematikanya. Dalam pendekatan ini, tema-tema pokok filsafat didalami dengan harapan bahwa pembacanya akan dengan sendirinya memperoleh gambaran tentang filsafat yang seutuhnya. Contoh penerap pendekatan eksistensial yang baik ialah A.C. Ewing, The Fundamental Questions of Philosophy.

Masing-masing dari pendekatan-pendekatan tersebut memiliki keunggulan dan kelemahan sendiri-sendiri. Untuk memaksimalkan keunggulan-keunggulannya dan meminimalkan kelemahan-kelemahannya, agaknya yang terbaik adalah yang kelima, pendekatan terpadu. Metode ini mensintesis berbagai pendekatan sekaligus dalam satu buku saja. Contoh pelaku pendekatan terpadu yang baik ialah Stephen Palmquist, The Tree of Philosophy!

Di Bawah Naungan Pohon Filsafat

Palmquist sendiri bermitos bahwa filsafat terbaik adalah Filsafat Kritis Immanuel Kant. (Interpretasinya terhadap Filsafat Kritis inilah yang membuahkan Filsafat Mawas.) Mitos ini berawal ketika ia sedang menyusun disertasi di Oxford University–yang kemudian memberinya gelar Doktor Filsafat (Ph.D.) pada tahun 1987. Disertasinyanya itu lalu dibukukan sebagai Kant’s System of Perspectives (1993). Selanjutnya, buku pertama dari tiga sekuel KSP diterbitkan sebagai Kant’s Critical Religion (2000). Buku-buku lain yang ia terbitkan juga banyak diwarnai dengan Filsafat Mawas, yaitu Dreams of Wholeness (1997), Four Neglected Essays by Immanuel Kant (1994), dan Biblical Theocracy (1993). (Kecuali KCR, buku-buku tersebut diterbitkan oleh Philopsychy Press, Hong Kong, sebuah organisasi non-profit yang ia dirikan demi “cinta-rohani” melalui penerbitan karya-karya yang penuh-mawas. Untuk informasi lebih lanjut mengenai Philopsychy Press, silakan menelusuri situsnya di http://www.hkbu.edu.hk/~ppp/ppp/intro.html.)

Pada mulanya, ketika saya mulai membaca The Tree, saya heran mengapa Palmquist–seorang filosofis kelahiran Amerika Serikat (1957) yang kini menjabat Profesor Madya di Department of Religion and Philosophy, Hong Kong Baptist University–masih “terlalu” bersandar pada Kant untuk penulisan sebuah buku pengantar filsafat. Namun beberapa saat kemudian, saya teringat akan kata-kata GWF Hegel bahwa untuk menjadi filsuf, kita mula-mula harus menjadi pengikut Kant. Bahkan Arthur Schopenhauer berpandangan, setiap orang akan tetap kanak-kanak sampai ia dapat memahami filsafat Kant. Dengan demikian, maklumlah saya bahwa pengantar filsafat yang terbaik bolehjadi berisi terutama filsafat Kant dengan metode penulisan yang bersumberkan filsafat Kant itu sendiri!

Kesadaran tersebut menumbuhkan kegairahan pada diri saya dalam menerjemahkan The Tree. Kegairahan itu semakin bertambah manakala saya dapati bahwa Palmquist bersedia meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan saya (melalui e-mail) mengenai penerjemahan ini. Hal ini mempermudah penyelesaian tugas saya. Akan tetapi, diskusi tersebut begitu mengasyikkan, sehingga proses penerjemahan itu menjadi molor dari rencana tiga bulan menjadi duabelas bulan dalam kenyataannya. Bagaimanapun, dari situ saya memperoleh beberapa bahan tambahan yang saya masukkan ke dalam teks utama (yakni kata-kata yang diletakkan antara lambang “[“ dan “]”) dan ke dalam “Catatan Penerjemah” di akhir setiap bab. (Dengan asumsi bahwa banyak pembaca edisi Indonesia ini beragama Islam, saya pun menambahkan beberapa perspektif Al-Qur’an di beberapa pasal. Di samping itu, saya pun mencantumkan beberapa sumber alternatif, yang saya pandang lebih mudah diakses oleh khalayak Indonesia, terhadap beberapa Bacaan Anjuran.)

Akhirul kalam, demi memaksimalkan dayamawas anda, saya menganjurkan anda agar, seraya dan/atau seusai membaca buku ini, menyempatkan diri untuk mencoba berdiskusi melalui e-mail dengan Palmquist <stevepq@hkbu.edu.hk> dan menengok situsnya di http://www.hkbu.edu.hk/~ppp/. Ini menyediakan banyak informasi yang penuh-mawas. Lantaran itu, tidaklah mengejutkan bahwa situs ini pada bulan Juni 1999 dianugerahi StudyWeb Excellence Award, sebuah penghargaan yang prestisius, dan pada bulan Mei 1998 dimasukkan ke dalam daftar situs yang direkomendasikan oleh “the Britannica Internet Guide”, sebuah organisasi yang tersohor.

2 Mei 2002

Muhammad Shodiq

<muhshodiq@yahoo.com>





Revolusi Marxisme

5 11 2008

Risalah Marxisme

Manuskrip ; Dictionary of Modern Politic Ideology

NY, St. Martin Press, 1982, Editor: Michael A. Riff

REVOLUSI MARXISME

Premis Mayor

Marx menjalin hubungan dengan gerakan Pekerja radikal Prancis (di Paris pada tahun 1843/ 1844, Marx menghadapi sendiri perkembangan tersebut), dan ada sejumlah bukti bahwa kontak inilah Marx mengidentifikasi kelompok Proletar sebagai penggerak perubahan revolusioner, sebagaimana yang diungkapkannya dalam esseinya tentang Jewish Question dan Introduction to the Critique of Hegel Philosophy of Right pada tahun 1843. Komponen ketiga teori Marx, (histories) dengan mengikuti skema Engels yang terkenal, adalah filsafat Idealis Jerman. Dari tulisan-tulisan kelompok Hegelian muda dan, terutama sekali, tulisan-tulisan Ludwig Feuerbach, Marx mewariskan konsep keterasingan. Dalam konteks religiusnya yang asli-dan Marx masih percaya bahwa “kecaman terhadap agama merupakan premis bagi semua kecaman”-ini menyatakan bahwa Tuhan tidak mencipta manusia menurut bayangannya. Yang benar justru kebalikannya : dalam suatu dunia yang tidak pasti, manusia memproyeksikan zat supranatural yang terbayangkan di atas pilihan-pilihannya karena cinta dan kemampuannya mengubah dunia agar menjadi lebih baik. Dengan demikian penciptaan seseorang menjadikannya asing bagi dirinya sendiri dan hal tersebut semakin mendominasinya, merampasnya dari kesempatan pemuasan diri sendiri di dunia ini. Marx dan pemikir seangkatannya, Moses Hess (1812-1875), sama-sama memperluas kritik agama ini ke dunia nyata, dunia Negara, dan yang terpenting teeori ekonomi. Mereka melihat analog Tuhan dalam peranan uang dan nexus cash dalam sekema Feuerbach : manusia menciptakan orde ekonomi dan uang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya tetapi semakin lama pasar dan uang mulai mendominasi manusia. Hubungan antara subjek dan predikat dibalik dan manusia menjadi budak mesin ekonomi yang semakin tidak manusiawi.

Premis Minor

Aspek-aspek keterasingan ekonomi ini dikembangkan dengan sangat ekstensisf oleh Marx dalam karya yang disebutnya Economic and philosophical Manuscripts pada tahun 1844. Dengan menganalisis bekerjanya perekonomian Kapitalis dan selanjutnya pemahaman yang terbatas dalam teori-teori ekonomi Borjuis-dan penting pula menyadari bahwa teori Marx tentang keterasingan tidak berkaitan dengan malaise eksistensial umum tetapi berada dalam pengaturan khusus kapitalisme industri-Marx mengidentifikasi beberapa aspek yang saling berpaut dalam keterasingan ekonomi. Secara logis seluruh struktur keterasingan berawal dangan pemisahan produsen dari produknya, yakni system kapitalis dimana produk pekerja bukanlah miliknya tetapi diambil alih oleh kapitalis. Menurut Marx, keterasingan dari produk ini melahirkan sejumlah kosekuensi. Karena produk adalah milik kapitalis, yang kepentingannya menjual produk itu demi keuntungan dan bukan demi memenuhi kebutuhan manusia, kegiatan produksinya tidak lagi benar-benar memuaskan. Kini manusia bekerja bukan untuk memenuhi kebutuhan yang memang harus dipenuhi tetapi semata-mata demi mendapatkan upah. Kerja itu sendiri lebih menjadi suatu alat dan bukan tujuan. Ini mengubah kerja menjadi “tidak sukarela” dan tercipta aspek keterasingan kedua : keterasingan dari proses kerja. Di sisi ini lahir aspek lainnya : keterasingan dari makhluk lain. Apa yang dimaksudkan keterasingan oleh Marx adalah bahwa manusia tidak lagi manusia seutuhnya di bawah hubungan produksi kapitalis; karena baginya apa yang memisahkan manusia dari dunia hewani dan merupakan esensi kemanusiaan adalah memuaskan tugas manusia, tugas untuk mengubah dunia alam sesuai dengan kebutuhan–kebutuhan manusia, kebutuhannya sendiri dan manusia lain. Akhirnya, terdapat keterasinga manusia dari manusia lain : dalam suatu dunia dimana manusia bekerja semata-mata untuk hidup, hubungan pasar menentukan hubungan manusia. Manusia berhubungan dengan manusia bukan sebagai makhluk manusia dengan makhluk manusia lainnya melainkan sebagai pekerja-pekerja yang saling bersaing untuk pekerjaan atau sebagai pembayar upah dengan penerima upah. Hasil akhir dari hubunga-hubungan ini adalah bahwa umat manusia tidak lebih dari sekedar roda penggerak dalam mesin ekonomi raksasa. Kepentingan-kepentingan ekonomi mendominasi kepentingan-kepentingan manusia, dan ini tercermin dalam teori-teori ekonomi Borjuis, yang memperlakukan hubungan manusia sebagai hubungan antar benda, antar komoditas.

Alienasi Marxisme

Ada beberapa hal yang perlu dicatat mengenai model keterasingan ini. Pertama, kesahihannya tidak tergantung atas suatu kajian Empiris mengenai malaise psychologist. Dalam skema ini seorang manusia bisa saja bahagia namun masih terus terasing. Memang inilah yang dengan tepat dimaksudkan dengan Marx ketika ia berbicara mengenai “kesadaran palsu” dan mengklaim bahwa Kapitalis sama-sama terasing seperti halnya pekerja. Karena itu, keterasingan ini tidak analog dengan konsep “anomi” Durkheim : karena Durkheim mengajukan konsepnya untuk menjelaskan masalah psikologis yang teramati, yaitu bunuh diri, sedangkan teori Marx bersandarkan pada asumsi-asumsi tertentu tentang apa yang dimaksud dengan manusia seutuhnya. Ini tidak berarti bahwa konsep keterasingan Marx sama sekali tidak memiliki subtansi empiris apapun. Ia mempersiapkan diri daftar pertanyaan bagi para pekerja untuk mengungkap sikap-sikap mereka terhadap pekerjaannya pada suatu kesempatan. Ia juga mengakui bahwa kinerja tugas-tugas yang semata-mata mekanis, cara dimana teknik-teknik produksi modern merendahkan pekerja hanya sebagai “pelengkap mesin”, sangat tidak memuaskan. Sosiologi modern, khususnya di Ameika Serikat, memakai beberapa tinjauan ini dalam suatu kampanye untuk membuat kinerja berbagai tugas lebih menarik bagi tenaga kerja industri. Namun, harus ditekankan bahwa tenaga kerja yang memuaskan tidak harus berarti tenaga kerja yang tidak terasing dalam pengertian Marxian. Selama produksi adalah demi keuntungan bukan demi manfaat, maka seluruh struktur keterasingan sebagaimana dilukiskan oleh Marx tetap ada ; karena bekerja tetap sebagai alat bukan tujuan, bukan realisasi manusia sepenuhnya seperti digambarkannya dalam Economic and philosophical Manuscripts.

Materialisme Dialektika Historis

Selama teori keterasingan Marx menempatkan asal-usulnya dalam keunggulan teori hukum-hukum ekonomi dibawah Kapitalisme, teori itu juga menyumbangkan penafsiran-penafsiran terhadap teori Marxisme terasa mengada-ada sehingga merendahkan teori itu menjadi determinasi ekonomi yang vulgar (hati –hati dengan kalimat ini). Apa yang diutarakan Marx adalah bahwa dibawah Kapitalisme hukum-hukum ekonomi mendominasi aktivitas manusia. Tetapi ia juga sedang berkata bahwa demikianlah kekeliruan yang terjadi dalam Kapitalisme, bahwa manusia tidak lagi menjadi subjek sejarah yang aktif dan sekedar menjadi alat sejarah. Inilah mengapa ia melukiskan sejarah sebelum revolusi sosialis sebagai “pra-sejarah” ; karena sejarah yang sebenarnya hanya berawal bila umat manusia menentukan kembali nasibnya sendiri. Inilah pengertian dari pernyataan Marx yang sering diulangi bahwa “kaum proletar harus membebaskan dirinya”. Jadi ini bukan saja karena tidak ada kelas lain yang akan melakukan hal itu atau memiliki kepentingan yang objektif dalam melakukan hal itu, kendati Marx pasti mempercayai kedua proposisi ini, tetapi karena pembebasan-diri, penguasaan pekerja untuk mengendalikan nasibnya sendiri, demikianlah maksud REVOLUSI yang sebenarnya. Seperti yang ditulis Marx dalam German Ideology pada tahun 1845/ 1846 : “karena itu, revolusi diperlukan bukan saja karena kelas Penguasa hanya bisa digulingkan dengan cara semacam itu tetapi juga karena dalam revolusi kelas dapat disingkirkan, revolusi dapat membersihkan dirinya dari kotoran zaman dan siap membangun masyarakat baru.”.