pendapat tokoh tentang filsafat manusia

23 10 2008

PLATO (427 – 347 SM)

Terjadi titik balik dalam kebudayaan dan pemikiran
Yunani ketika Plato menafsirkan semboyan “kenalilah
dirimu sendiri” (gnothi seauton) dengan cara yang sama
sekali baru. Penafsiran ini memunculkan persoalan yang
tidak hanya tidak terdapat pada pemikiran
pre-Sokrates, tetapi juga di luar jangkauan metode
Sokrates sendiri. Untuk memenuhi permintaan orakel
Delphi, untuk memenuhi kewajiban religius berupa
pengkajian diri serta pengenalan diri, Sokrates
mendekati manusia sebagai individu. Pendekatan
Sokrates ini oleh Plato dianggap punya
keterbatasan-keterbatasan. Bagi Plato, untuk
memecahkan persoalan tersebut kita harus membuat
rancangan yang lebih luas. Dalam pengalaman
individual, kita menghadapi gejala-gejala yang
demikian beraneka, rumit dan saling bertentangan,
sehingga kita sulit melihatnya secara jelas.
Manusia seharusnya dipelajari dari sudut kehidupan
sosial dan politis. Menurut Plato, manusia adalah
ibarat teks yang sulit, maknanya harus diuraikan oleh
filsafat. Tapi dalam pengalaman kita sebagai pribadi,
teks itu ditulis dengan huruf-huruf yang terlampau
kecil sehingga tidak terbaca. Maka sebagai tugas
pertama, filsafat harus ‘memperbesar’ tulisan-tulisan
tersebut. Filsafat hanya dapat mengajukan teori yang
memadai tentang manusia apabila sampai pada teori
tentang negara. Dalam teori tentang negara,
sifat-sifat manusia ditulis dengan huruf-huruf besar.
Dalam teori tentang negara, arti ‘teks’ yang semula
tersembunyi seketika muncul, dan apa yang semula kabur
dan ruwet menjadi jelas dan dapat dibaca. Namun negara
bukanlah segala-galanya, serta negara tidak
mencerminkan dan tidak menyerap seluruh aktivitas
manusia, meskipun kegiatan manusia dalam perkembangan
sejarahnya berhubungan erat dengan bertumbuhnya
negara.
Plato bertitik tolak dari manusia yang harmonis serta
adil dan dalam hal itu ia menggunakan pembagian jiwa
atas 3 fungsi, yaitu:
· Epithymia (suatu bagian keinginan dalam jiwa).
· Thymos, (suatu bagian energik dalam jiwa).
· Logos, (suatu bagian rasional dalam jiwa dan sebagai
puncak dan pelingkup).
Menurut Plato, negara diibaratkan sebagai Manusia
Besar, sebagai organisme yang terdiri atas 3 bagian
atau golongan yang masing-masing sepadan dengan suatu
bagian jiwa, yaitu:
· Epithymia, golongan produktif yang terdiri dari
buruh, petani, dan pedagang.
· Thymos, golongan penjaga yang terdiri dari
prajurit-prajurit.
· Logos, golongan pejabat yang memegang pucuk pimpinan
dan kekuasaan.
Plato juga mengajarkan teori tentang pra-eksistensi
jiwa. Dia mengatakan sebelum kita dilahirkan, atau
sebelum kita memperoleh suatu status badani, kita
sudah berada sebagai jiwa-jiwa murni dan hidup di
kawasan lebih tinggi di mana kita memandang suatu
dunia rohani. Sejak kita dilahirkan, kita berada di
bumi dan jiwa kita meringkuk dalam penjara tubuh,
terbuang dari daerah tinggi itu. Karena penjelmaan
dalam tubuh itu, jiwa kita tidak lagi menyadarkan diri
dan dengan mendadak tidak lagi menyadari pengetahuan
tentang idea-idea dalam dunia kayangan dulu.
Dari sini Plato kemudian mengembangkan teori tentang
manusia. Manusia pada mulanya adalah roh murni yang
hidup dari kontemplasi akan yang ideal dan yang ilahi.
Jadi, kemungkinan dan makna ultimate keberadaan
manusia mula-mula terletak dalam kehidupan yang
berkaitan erat dengan yang baik, yang benar, dan yang
indah. Tetapi kita gagal mencapai kehidupan yang
sebagaimana mestinya karena kita menyimpang dari
kiblat idea-idea tersebut, sehingga kita langsung
terhukum dengan dipenjarakannya jiwa ke dalam tubuh.
Kita harus berusaha naik ke atas dan memperoleh
perhatian dan cinta besar untuk dunia ideal dan ilahi
itu. Akan tetapi kemungkinan untuk mewujudkan makna
ini sangat dibatasi karena kita terbelenggu dalam
materi. Bagi kita, dunia jasmani dan tubuh menjadi
kemungkinan-kemungkinan buruk untuk tersesat lebih
jauh lagi dan tenggelam dalam rawa-rawa materi dan
sensual. Kemungkinan yang paling jahat ialah
menyerahkan diri sepenuhnya kepada dirinya sendiri
(egoisme radikal) dan kepada benda-benda jasmani
(materialisme dan sensualisme). Jadi, bagi manusia,
dunia dan tubuh itu bersifat ambivalen, artinya dunia
serta tubuh dapat merayu dia ke arah
kemungkinan-kemungkinan yang jahat, tetapi dapat juga
mendorong dia kepada kemungkinan-kemungkinan yang
baik.
Manusia memiliki suatu daya yang kuat dan gemilang
yang dapat mendorong dia ke atas, yaitu cinta (eros).
Eros adalah daya kreatif dalam diri manusia, pencetus
kehidupan, inspirator para penemu, seniman dan genius.
Eros memenuhi kita dengan semangat kebersamaan,
membebaskan kita dari kesendirian kita, dan mengajak
kita ke pesta, musik, tarian, dan permaian. Plato
menyebutnya sebagai “bapak segala kehalusan, segala
kepuasan dan kelimpahan, segala daya tarik, keinginan
dan asmara”. Eros mendorong kita semakin tinggi,
sehingga kita dapat beralih dari cinta yang kelihatan
kepada cinta yang tidak kelihatan, ideal, ilahi.
Menurut Plato, kematian hanyalah permulaan suatu
reinkarnasi baru yang lebih rendah atau lebih tinggi
daripada keberadaannya sebelumnya. Dalam karyanya:
Phaidros, Plato berkata bahwa setelah 10.000 tahun,
jiwa akan kembali ke asal usulnya. Jadi menurut
pandangan Plato, manusia mempunyai banyak jiwa dan
banyak manusia individu.



Aksi

Information

2 responses

29 06 2011
maryanto

mantap gannnn…. seandainya republik idea versi plato diterapkan dlm negara ini.., tentunya akan banyak orang yg gak mau jadi pejabat dan pemimpin….

27 11 2012
arief

sekian bnyk pndpat yg kita baca dan yg kita pahami,mka ambil satu yg paling baek mnurut anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: