Revolusi Marxisme

5 11 2008

Risalah Marxisme

Manuskrip ; Dictionary of Modern Politic Ideology

NY, St. Martin Press, 1982, Editor: Michael A. Riff

REVOLUSI MARXISME

Premis Mayor

Marx menjalin hubungan dengan gerakan Pekerja radikal Prancis (di Paris pada tahun 1843/ 1844, Marx menghadapi sendiri perkembangan tersebut), dan ada sejumlah bukti bahwa kontak inilah Marx mengidentifikasi kelompok Proletar sebagai penggerak perubahan revolusioner, sebagaimana yang diungkapkannya dalam esseinya tentang Jewish Question dan Introduction to the Critique of Hegel Philosophy of Right pada tahun 1843. Komponen ketiga teori Marx, (histories) dengan mengikuti skema Engels yang terkenal, adalah filsafat Idealis Jerman. Dari tulisan-tulisan kelompok Hegelian muda dan, terutama sekali, tulisan-tulisan Ludwig Feuerbach, Marx mewariskan konsep keterasingan. Dalam konteks religiusnya yang asli-dan Marx masih percaya bahwa “kecaman terhadap agama merupakan premis bagi semua kecaman”-ini menyatakan bahwa Tuhan tidak mencipta manusia menurut bayangannya. Yang benar justru kebalikannya : dalam suatu dunia yang tidak pasti, manusia memproyeksikan zat supranatural yang terbayangkan di atas pilihan-pilihannya karena cinta dan kemampuannya mengubah dunia agar menjadi lebih baik. Dengan demikian penciptaan seseorang menjadikannya asing bagi dirinya sendiri dan hal tersebut semakin mendominasinya, merampasnya dari kesempatan pemuasan diri sendiri di dunia ini. Marx dan pemikir seangkatannya, Moses Hess (1812-1875), sama-sama memperluas kritik agama ini ke dunia nyata, dunia Negara, dan yang terpenting teeori ekonomi. Mereka melihat analog Tuhan dalam peranan uang dan nexus cash dalam sekema Feuerbach : manusia menciptakan orde ekonomi dan uang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya tetapi semakin lama pasar dan uang mulai mendominasi manusia. Hubungan antara subjek dan predikat dibalik dan manusia menjadi budak mesin ekonomi yang semakin tidak manusiawi.

Premis Minor

Aspek-aspek keterasingan ekonomi ini dikembangkan dengan sangat ekstensisf oleh Marx dalam karya yang disebutnya Economic and philosophical Manuscripts pada tahun 1844. Dengan menganalisis bekerjanya perekonomian Kapitalis dan selanjutnya pemahaman yang terbatas dalam teori-teori ekonomi Borjuis-dan penting pula menyadari bahwa teori Marx tentang keterasingan tidak berkaitan dengan malaise eksistensial umum tetapi berada dalam pengaturan khusus kapitalisme industri-Marx mengidentifikasi beberapa aspek yang saling berpaut dalam keterasingan ekonomi. Secara logis seluruh struktur keterasingan berawal dangan pemisahan produsen dari produknya, yakni system kapitalis dimana produk pekerja bukanlah miliknya tetapi diambil alih oleh kapitalis. Menurut Marx, keterasingan dari produk ini melahirkan sejumlah kosekuensi. Karena produk adalah milik kapitalis, yang kepentingannya menjual produk itu demi keuntungan dan bukan demi memenuhi kebutuhan manusia, kegiatan produksinya tidak lagi benar-benar memuaskan. Kini manusia bekerja bukan untuk memenuhi kebutuhan yang memang harus dipenuhi tetapi semata-mata demi mendapatkan upah. Kerja itu sendiri lebih menjadi suatu alat dan bukan tujuan. Ini mengubah kerja menjadi “tidak sukarela” dan tercipta aspek keterasingan kedua : keterasingan dari proses kerja. Di sisi ini lahir aspek lainnya : keterasingan dari makhluk lain. Apa yang dimaksudkan keterasingan oleh Marx adalah bahwa manusia tidak lagi manusia seutuhnya di bawah hubungan produksi kapitalis; karena baginya apa yang memisahkan manusia dari dunia hewani dan merupakan esensi kemanusiaan adalah memuaskan tugas manusia, tugas untuk mengubah dunia alam sesuai dengan kebutuhan–kebutuhan manusia, kebutuhannya sendiri dan manusia lain. Akhirnya, terdapat keterasinga manusia dari manusia lain : dalam suatu dunia dimana manusia bekerja semata-mata untuk hidup, hubungan pasar menentukan hubungan manusia. Manusia berhubungan dengan manusia bukan sebagai makhluk manusia dengan makhluk manusia lainnya melainkan sebagai pekerja-pekerja yang saling bersaing untuk pekerjaan atau sebagai pembayar upah dengan penerima upah. Hasil akhir dari hubunga-hubungan ini adalah bahwa umat manusia tidak lebih dari sekedar roda penggerak dalam mesin ekonomi raksasa. Kepentingan-kepentingan ekonomi mendominasi kepentingan-kepentingan manusia, dan ini tercermin dalam teori-teori ekonomi Borjuis, yang memperlakukan hubungan manusia sebagai hubungan antar benda, antar komoditas.

Alienasi Marxisme

Ada beberapa hal yang perlu dicatat mengenai model keterasingan ini. Pertama, kesahihannya tidak tergantung atas suatu kajian Empiris mengenai malaise psychologist. Dalam skema ini seorang manusia bisa saja bahagia namun masih terus terasing. Memang inilah yang dengan tepat dimaksudkan dengan Marx ketika ia berbicara mengenai “kesadaran palsu” dan mengklaim bahwa Kapitalis sama-sama terasing seperti halnya pekerja. Karena itu, keterasingan ini tidak analog dengan konsep “anomi” Durkheim : karena Durkheim mengajukan konsepnya untuk menjelaskan masalah psikologis yang teramati, yaitu bunuh diri, sedangkan teori Marx bersandarkan pada asumsi-asumsi tertentu tentang apa yang dimaksud dengan manusia seutuhnya. Ini tidak berarti bahwa konsep keterasingan Marx sama sekali tidak memiliki subtansi empiris apapun. Ia mempersiapkan diri daftar pertanyaan bagi para pekerja untuk mengungkap sikap-sikap mereka terhadap pekerjaannya pada suatu kesempatan. Ia juga mengakui bahwa kinerja tugas-tugas yang semata-mata mekanis, cara dimana teknik-teknik produksi modern merendahkan pekerja hanya sebagai “pelengkap mesin”, sangat tidak memuaskan. Sosiologi modern, khususnya di Ameika Serikat, memakai beberapa tinjauan ini dalam suatu kampanye untuk membuat kinerja berbagai tugas lebih menarik bagi tenaga kerja industri. Namun, harus ditekankan bahwa tenaga kerja yang memuaskan tidak harus berarti tenaga kerja yang tidak terasing dalam pengertian Marxian. Selama produksi adalah demi keuntungan bukan demi manfaat, maka seluruh struktur keterasingan sebagaimana dilukiskan oleh Marx tetap ada ; karena bekerja tetap sebagai alat bukan tujuan, bukan realisasi manusia sepenuhnya seperti digambarkannya dalam Economic and philosophical Manuscripts.

Materialisme Dialektika Historis

Selama teori keterasingan Marx menempatkan asal-usulnya dalam keunggulan teori hukum-hukum ekonomi dibawah Kapitalisme, teori itu juga menyumbangkan penafsiran-penafsiran terhadap teori Marxisme terasa mengada-ada sehingga merendahkan teori itu menjadi determinasi ekonomi yang vulgar (hati –hati dengan kalimat ini). Apa yang diutarakan Marx adalah bahwa dibawah Kapitalisme hukum-hukum ekonomi mendominasi aktivitas manusia. Tetapi ia juga sedang berkata bahwa demikianlah kekeliruan yang terjadi dalam Kapitalisme, bahwa manusia tidak lagi menjadi subjek sejarah yang aktif dan sekedar menjadi alat sejarah. Inilah mengapa ia melukiskan sejarah sebelum revolusi sosialis sebagai “pra-sejarah” ; karena sejarah yang sebenarnya hanya berawal bila umat manusia menentukan kembali nasibnya sendiri. Inilah pengertian dari pernyataan Marx yang sering diulangi bahwa “kaum proletar harus membebaskan dirinya”. Jadi ini bukan saja karena tidak ada kelas lain yang akan melakukan hal itu atau memiliki kepentingan yang objektif dalam melakukan hal itu, kendati Marx pasti mempercayai kedua proposisi ini, tetapi karena pembebasan-diri, penguasaan pekerja untuk mengendalikan nasibnya sendiri, demikianlah maksud REVOLUSI yang sebenarnya. Seperti yang ditulis Marx dalam German Ideology pada tahun 1845/ 1846 : “karena itu, revolusi diperlukan bukan saja karena kelas Penguasa hanya bisa digulingkan dengan cara semacam itu tetapi juga karena dalam revolusi kelas dapat disingkirkan, revolusi dapat membersihkan dirinya dari kotoran zaman dan siap membangun masyarakat baru.”.


Aksi

Information

One response

6 11 2008
ahmed shahi kusuma

Tulisan di atas kok cuma copypaste aja, kapan nich kalian bikin komentar sendiri tentang Marxisme ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: