mahasiswa

6 11 2008

Pada akhirnya Mahsiswa

atarbelakang sejarah, tuntutan social-politik dan potensial-inheren menjadikan mahasiswa memiliki daulat tugas yang tidak sekedar menjadi peserta didik. Fakta sejarah dan situasional kebangsaan yang masih jauh dari mengedepankan kedaulatan rakyat sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa idiom Pembangunan Indonesia hanyalah kamuflase dari pembangunan di Indonesia, maka timbulnya akibat yang sangat mengorbankan rakyat banyak hanya akan dipandang, bahwa populasi (Rakyat banyak sebagai Komoditas) adalah tidak unggul dan perlu dianulir/ dieliminasi. Maka lebih lanjut; Memberantas Kemiskinan merupakan program yang dimaksudkan untuk memberantas Orang-orang Miskin.
asyarakat yang adalah Rakyat banyak itu sendiri tiada henti untuk mengangkat harkat martabatnya dengan dayanya sendiri, namun scenario dan sistem memotong kesempatan mereka dengan menyumpal akses-akses yang sebenarnya memang menjadi hak mereka. Lanyaknya memasuki lubang jarum, usaha mereka yang sendiri tersebut. Kemungkinan yang tersisa hanya akan sebesar angka dibelakang koma (basis point) bagi ruang eksisnya. Situasi yang tidak adil tersebut akan siap menebas usaha mereka untuk tumbuh sedari dini. Keadaan tidak memungkinkan bagi mereka untuk berdaulat dengan usahanya sendiri tanpa dibantu oleh bagian lain dalam struktur social-masyarakat.
emerintah sebagai pemegang kuasa untuk mengatur tata social masyarakat justru memiliki andil besar dalam menciptakan situasi yang tidak adil tersebut.
Partai Politik yang memang pada dasarnya adalah organisasi yang berorientasi Kekuasaan, lebih menempatkan Program-program yang mengangkat harkat-martabat rakyat sebagai langkah yang kemudian setelah strategi-strategi yang berderet-deret dalam nuansa pencapaian kekuasaan itu teratasi. Urusan Rakyat nanti setelah 50 Program mengambil alih dan mempertahankan kekuasaan.
asyarakat umum kelas atas (borjuis) lebih terbiasa dan mempercayai ukuran untung rugi, diluar persoalan baik-buruk dan benar-salah, tidak ada bantuan dalam tiadanya keuntungan yang dapat diperolehnya.
rganisasi Non Pemerintah (NGO) diantara berbagai pilihan mungkin lebih memungkinkan untuk mengakomodasi bantuan terhadap kepentingan rakyat, namun terdapat fakta-fakta sosial dan akses-akses yang menjadi suport kemampuan NGO menyisakan tanda tanya pada masyarakat. Keterbukaan akses-akses NGO yang diluar kemampuan rakyat untuk mengetahuinya mengindikasikan potensi program-program NGO menjadi proyek-proyek yang mengakomodasi kepentingan mereka (NGO) dan Fundingnya . Potensi untuk mengeksploitasi dan manipulasi sosial, menjadikan rakyat khawatir dan perlu berpikir dua kali ketika kepentingannya diakomodasi NGO.
engakomodasian kepentingan rakyat hanya akan murni dan tulus dibebankan kepada generasi yang adalah calon pelaku rakyat itu sendiri. Agent yang mengedepankan nilai-nilai Humanity dan morality karena dia pulalah nantinya yang akan menggunakannya, sehingga menjaganya dengan baik akan merupakan usahanya untuk menciptakan kondisi yang baik pula dimasanya yang akan datang. Dan unsur masyarakat itu sebagaimana ditunjukkan oleh sejarah Bangsa Indonesia adalah Mahasiswa.
epentingan utama Mahasiswa adalah belajar melalui pendidikannya untuk mempersiapkan diri lebih memiliki kualitas yang prima dan bedaya membawa arah masa depan yang lebih baik. Situasional diri dan kredibilitas kepentingannya yang bermuara pada perwajahan masadepan menjadikannya secara simbolis memiliki kedudukan yang terlegitimasi secara substansial sebagai agen perubahan tersebut. Dengan tetap mengindahkan bahwa setiap manusia memiliki kecenderungan yang tidak sempurna tanpa memandang tingkatannya, Mahasiswa secara mendasar terkondisikan untuk berada pada kedudukan yang memiliki akses idealisme murni.
Berangkat dari hal diatas, maka keberadaan Mahasiswa yang berasas-potensi idealis disamping pamrih utama sebagai masyarakat pembelajar (karena kesiswaannya) menjadi penting untuk dimunculkan dalam diri calon komunitas Mahasiswa. Terlebih memandang tata kehidupan social-politik yang masih jauh dari tipikal Masyarakat Madani (social society), ditangan mahasiswa itulah titik strategis motor Agent Of Change Kerakyatan.
Sejalan dengan wacana diatas, maka selayaknyalah Mahasiswa familiar dengan dimensi keaktivisan sekaligus perangkat-perangkat inheren yang menyertainya (humanis, kritis, peka social dan kerakyatan). Lebih dari hanya berkutat dengan aspek keakademisan belaka. Para Mahasiswa mestilah lebih memahami makna kemahasiswaannya secara luas yang juga menyertakan konteks sejarahnya.
Maka dengan begitu Mahasiswa akan dapat menyadari bahwa peran setrategisnya ditengah kehidupan social-politik memiliki potensi (social of force) yang dapat membelokkan arah sejarah Bangsa .

Sin-‘06


Aksi

Information

One response

27 11 2008
ga penting

sekarang unitomo berada di titik nadir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: